Rabu, 07 Januari 2009

artikel politik

Kemerdekaan, Kedaulatan dan Anak Muda

Apa artinya kemerdekaan tanpa kedaulatan? Itu sama saja seperti naik sepeda tanpa roda, seperti minum dengan gelas kosong. Itu hanyalah fatamorgana yang memang lebih baik dari penjajahan tapi masih jauh dari cita-cita kita. Kemerdekaan yang dilandasi tanpa kedaulatan adalah kemerdekaan yang belum merdeka. Hanyalah sebuah jembatan yang belum jadi, walau terbuat dari emas murni. Karena kemerdekaan tanpa kedaulatan adalah kosong belaka.

Sedang bagaimana jika kedaulatan tanpa kemerdekaan. Walau itu lebih baik, tapi tetap belum semprna. Itu bagaikan makan nasi goreng yang belum digoreng. Bagaikan banteng yang besar dan gagah perkasa, tapi salah satu kakinya masih tertambat oleh rantai baja yang membelenggunya. Memang pada kenyataanya ia adalah berdaulat, tapi tetap saja ia adalah insan yang belum merdeka.

Kemerdekaan harus diiringi dengan kedaulatan. Begitu pula sebaliknya, kedaulatan harus dibarengi dengan kemerdekaan. Jadilah manusia seutuhnya, yang merdeka lagi berdaulat.

Jikalau kita memang telah merdeka, maka sepatutnyalah kita berdaulat. Tapi apa ayal, kemerdekaan kita ternyata belum berisi kedaulatan. Indonesia sudah merdeka 63 tahun yang lalu, tak ada yang dapat menyangkal hal itu. Bahkan para pemikir, pemimpin, dan tokoh agamapun akan dianggap pembohong dan lagi bodoh jika menyangkalnya. Tapi apakah kita sudah berdaulat? Orang gilapun tahu kita bukan bangsa yang berdaulat penuh. Setidaknya belum. Kedaulatan bukan diraih dalam satu malam, atau satu ucapan mantra. Sama seperti kemerdekaan, kedaulatan harus diraih dengan waktu yang cukup melelahkan dan kerja keras yang tak terukur capeknya.

Setelah kita merdeka, generasi pejuang seakan turun drastis, bukan hanya dalam kuantitas, tapi juga kualitas. Perjuangan super heroik yang luar biasa dan melegenda, seakan tak ada penerusnya lagi. Sehingga memang kita telah merdeka tapi belum berdaulat.

Kita masih harus impor jika kita ingin makan dan berpakaian. Kita harus keluar negri jika kita ingin sembuh. Kita harus mendapat persetujuan negara asing jika ingin memiliki undang-undang sendiri.

Inilah bukti bahwa kita belum merdeka. Pembodohan disana-sini, penindasan setiap hari seakan menjadi makanan wajib kita. Yang kuat membungkam yang lemah yang berkuasa menginjak yang tak empunya kuasa, adalah tontonan sehari-hari kita. Lalu apa gunanya kita punya itu Undang-Undang Dasar. Apapula itu ideologi jika hanya jadi pemanis ruangan saja?

Pembodohan dan penindasan dimasa pra kemerdekaan dilakukan oleh para penjahat asing dengan cara-cara keji lagi biadab. Tapi penyelewengan dan perusakan paska kemerdekaan justru dilakukan oleh para pemegang amanat negri sendiri, dengan bengis lagi amoral. Dan yang lain hanya diam, cari selamat. Syukur-syukur juga kecipratan hasil korupsi.

Para pemuda dan generasi masa depan harus segera mengambil alih kontrol dan amanat. Tegakan kedaulatan bangsa. Busungkan dada dan mantapkan langkah bak pahlawan menuju medan laga. Jangan takut dengan ucapan-ucapan kualat atau hukum karma. Ini jamannya pentium empat jamanya logika sehat. Persetan dengan inggah-inggih, jika hanya dijadikan kedok generasi bangkotan agar terus berkuasa. Buat revolusi kita sendiri.

Tapi sayangnya kita justru terseret arus. Hedonisme lewat kotak terkutuk bernama televisi telah mereduksi otak kita demikian bodohnya. Markonipun tak akan menciptakan benda itu jika tahu akan digunakan oleh para kapitalis industri untuk menjadi alat pencetak uang dan pencetak generasi nol yang dungu lagi pemalas.

Kita terjebak gaya hidup yang semu, yang hura-hura dan penuh kesia-siaan. Kedaulatan harus segera ditegakkan. Tapi bagaimana bisa jika tubuh kita hanya melenggak-lenggok didalam ruangan yang remang-remang dan penuh dengan alunan musik bodoh yang tak bernada. Bagaimana bisa kita mengajak untuk menegakkan kedaulatan jika otak kita tak lebih dari kumpulan memori tentang bokep dan filem-filem murahan?

Kita tak akan bisa merebut kedaulatan jika kita masih sibuk memikirkan perbedaan yang ada. Kita tak akan pernah berdaulat jika kita masih menghamba pada itu partai-partai tak berguna. Bukan rahasia lagi jika partai-partai,yang hanya muncul lima tahun sekali, hanya sibuk memikirkan isi piring mereka sendiri. Kumpulkan kekuatan dengan berlandaskan bahwa kita ini Indonesia, bukan karena kita merah, hijau, apalagi kuning.

Kaum muda punya peluang besar untuk memimpin tapi peluang itu hanya tinggal kenangan jika kita sendiri larut dalam hiruk pikuk konsumerisme. Gerakan kita bakal jadi macan ompong, yang akhirnya berakhir sebagai hiasan dinding.

Bung Karno belum berusia tiga puluh tahun untuk berjuang dalam Marhaenisme. Fidel dan Raul Castro belum putih rambutnya ketika merebut Kuba dari diktator Baptista sang anjing Amerika. Dan yang lebih hebat lagi, Alfa Edison belum genap tiga windu hidup dibumi ketika meluncurkan penemuan pertamanya.

Umur bukan berapa lama kita tinggal di bumi, tapi tentang situasi kedewasaan kita. Usia muda adalah saat yang tepat untuk bermilitansi ria. Tentunya dengan pimpinan hikmat kebijaksanaan. Menegakkan kedaulatan adalah sebuah jalan panjang yang teramat jauh antara awal dan akhirnya, tapi bukankah perjalanan ribuan kilometer diawali dengan satu langkah.

Perjuangan tiada akhir, apalagi takut, perlu kita tunjukkan. Bukan saatnya lagi beromong-kosong lewat debat tiada mutu dan guna. Apalagi karena bendera partai. Saatnya berjuang untuk Indonesia. Bukan lagi untuk merah, hijau apalagi kuning. Saatnya tindakan nyata, walaupun sederhana. Bukankah lebih baik sepiring ketela rebus dalam kenyataan daripada daging sapi tapi cuma dalam impian.

Kedaulatan dan kemerdekaan, harus dipaksa untuk mau dikawinkan. Bahkan kalau perlu dengan sedikit luka ditubuh. Gerakan dan liga-liga, serta forum-forum atau apapun namanya harus segera bersatu. Karena Indonesia itu satu.

Persetan dengan itu hedonisme apalagi konsumerisme. Kaum muda revolusioner harus mau melawannya. Jika itu sudah merasuk, maka tanggalkan lalu tinggalkan. Jika kita belum bisa membersihkan diri dari gaya hidup boros serta tak berguna itu, kedaulatan hanyalah sebuah bayang-bayang yang sampai kiamatpun tak akan kita raih.

Sekarang saatnya kaum muda memimpin,

Indonesia milik anak muda!

Magelang,17 September 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar