refleksi tentang kaum hedonis
Perkembangan umat manusia telah sampai pada tahap yang luar biasa. Penemua-penemuan tak lagi dalam hitungan tahun, tetapi sudah dalam tatanan menit. Peradaban-peradaban baru bermunculan silih berganti, mengikuti laju zaman. Tatanan kehidupan umat manusia pun telah dengan cepat berubah.
Pantha rhei, semua berubah. Mungkin yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri, begitu kata adegium Yunani kuno, walau masih harus dibuktikan kebenarannya. Tetapi jika adegium itu benar, maka setiap insan harus menyiapkan diri menuju perubahan itu, jika ingin tetap eksis. Karena semakin hari, laju perubahan yang berjalan dengan kencangnya telah memakan banyak korban. Mereka gugur atau jatuh tersungkur karena tak mampu menghadapi perubahan.
Idealnya perubahan harus menuju kearah yang lebih baik. Suatu progress dari yang terdahulu harus dapat jadi pembaharu, untuk mempersenjatai manusia menjadi semakin mendekati sempurna. Tetapi nyatanya, banyak kasus perubahan justru semakin menghasilkan sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan justru membawa manusia kedalam lubang kehancuran.
Baik atau buruk memang suatu hal yang sulit diukur. Suatu hal yang relativ dan sering menimbulkan konflik dan perdebatan panjang. Tetapi sebagai manusia, kita telah dipersenjatai dengan hikmat dan akal budi. Itulah yang membedakan kita dengan binatang. Walaupun musim berganti, korupsi merupakan sebuah kejahatan. Walaupun tahun berjalan pencurian dan pembunuhan adalah sebuah kesalahan. Dan sampai kiamat, penindasan adalah sebuah pelanggaran.
Perubahan seperti yang telah terurai diatas adalah sebuah hal yang alami dan niscaya akan terus berjalan. Tinggal kita mengarahkan perubahan tersebut agar justru jangan menjadi bumerang dan mencelakakan umat manusia, tetapi menjadi pembaharu yang baik bagi jalannya realitas sejarah kita di bumi ini. Hal ini dapat terjadi jika kita rajin merenung dan lebih mengandalkan nurani kita daripada nafsu dan keinginan semu duniawi kita.
Tapi sayangnya justru disaat ini kita telah mengalami sebuah pergeseran yang benar-benar nyata dari perubahan. Suatu pergesaran yang menjurus ke suatu degradasi nilai, moral dan tatanan kehidupan ini ada bukan lagi didepan mata kita, tapi mungkin sudah merasuk ke lubuk hati sebagian besar dari kita. Perubahan yang sangat cepat ini harus segera dikaji ulang agar dapat berjalan direl yang seharusnya.
Kita dapat melihat bahkan merasakan bagaiman kehidupan kita benar-benar telah dimanjakan oleh berbagai fasilitas yang ada. Kita telah menikmati suatu layanan dari barang-barang dan jasa yang ada disekitar kita. Dan sayangnya kita terlalu terpukau, terpikat bahkan terjebak layaknya kumbang yang menjadi mangsa bunga bangkai.
Kemunculan yang sangat pesat dari berbagai barang-barang dan jasa yang ada disekitar kita ternyata belum dibarengi dengan suatu kebijaksanaan untuk menggunakan hal-hal itu. Barang menjadi lebih penting dari penggunaannya. Hal ini pada akhirnya hanya akan berujung kepada suatu kemalasaan akut yang berpuncak pada suatu penindasan yang semu tapi benar-benar nyata.
Penindasan ini bersifat semu tapi dampaknya sangat nyata karena bahkan lebih kejam daripada penindasan yang terang-terangan. Sejak milenium ke 20, imperialisme telah menjadi suatu barang usang dan sampah yang berbau busuk yang ramai-ramai ingin dikubur oleh semua pihak. Kolonialisme dalam bentuk fisik hampir dikatakan telah berakhir, tetapi belum mati. Justru ia telah berganti kulit, bagai ular yang bereinkarnasi dan muda kembali. Dengan nama baru tapi semboyan lama yaitu penindasan, imperialisme dan kolonialisme telah menjadi setan yang menakutkan yang bergentayangan sepanjang hari. Setan ini menculik jiwa-jiwa manusia dan merubahnya sedemikian rupa hingga menjadi bagai robot Frankenstein. Dan Bung Karno menyebutnya sebagai neo-kolonialisme dan neo imperialisme.
Dengan senjata yang lebih canggih didukung dana yang bergelimpangan, kaum nekolim dan neimprel berusaha untuk merubah struktur masyarakat dalam jangkauan global. Ia telah menembus sekat-sekat tradisional, menyusup masuk ke nilai-nilai konvensional dan menginveksi manusia dimanapun berada. Kapitalisme, yang adalah virus hasil pembiakkan nekolim dan neimprel telah mewabah keseluruh dunia. Dan kini kaum muda yang memang akan menjadi generasi masa depan umat manusia justru secara sukarela menjangkiti diri mereka sendiri dengan virus berbahaya ini.
Kaum muda memang motor perubahan. Dimanapun ia berada ia adalah garda terdepan bagi pembaharuan masyarakatnya. Dan kapitalisme telah berhasil memperbudak sebagian besar anak muda kita untuk jadi pengikutnya. Dengan dikemas semenarik mungkin, kapitalisme telah tampak begitu indah nan cantik. Bahkan beberapa orang memperebutkannya layaknya sebuah sayembara, sedang sebagian lainnya mengharapkannya laiknya anak kecil mengharapkan kado dari sinterklas.
Kaum kapitalis telah menunjukkan kemenangan telak mereka dalam hal memperbudak umat manusia. Berbagai contoh berikut hanyalah sedikit dari sederet kebiadaban yang dilegalkan dan pada akhirnya diimani. Sungguh merupakan ironi dari sebuah perubahan.
- Sinetron
Suatu contoh nyata dari perbudakan yang berbahaya tapi sangat digemari ini adalah sinetron. Suatu tayangan yang bersifat striping ini sebenarnya jika dikaji ulang adalah sangat buruk, monoton, murahan, tak mendidik, merusak moral bahkan menjijikan. Suatu kebodohan yang disiarkan sepanjang hari ini ironisnya justru menjadi tontonan wajib masyarakat kita.
Alarm bahaya kita harusnya berbunyi ketika kita melihat tayangan yang jauh dari tataran nilai-nilai dan cenderung eksploitatif ini. Bayangkan jika anak-anak muda dalam usia belia ini dicekoki dengan berbagai permasalahan yang cenderung dibuat-buat. Dengan akting murahan yang hanya mengandalkan tampilan luar(walaupun sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat), mereka menginfeksi kita dengan dandanan seronok, gaya bicara khas kebun binatang, pemikiran dangkal dan dungu, serta materi yang kalau tidak berisi kekejaman luar biasa dan kebiadapan diluar nalar, pasti berisi seember tangisan dan semangat juang kelas kacang rebus.
Alur cerita yang kacau dan monoton dari sinetron-sinetron kita benar-benar menyedihkan. Bahkan ada sinetron yang jika diawal episode menampilkan sosok gadis(?) SMA yang tomboy yang menjadi tokoh utama, tiba-tiba kini muncul sosok anak kecil (korban eksploitasi industri televisi kita), yang menjadi sosok utamanya. Ceritanyapun tidak nyambung sama sekali. Bahkan anak kecil yang waras nalarnya akan menganggap ini sebuah kebodohan belaka.
Adapula sinetron yang tiap episodenya dihiasi dengan tangis penuh rasa iba dari tokoh protagonisnya, yang mendayu-dayu dan sebenarnya cukup memuakkan. Kelemah-lembutan yang kelewatan yang pada akhirnya berganti menjadi kemalasan untuk berjuang dan pasrah pada alur cerita, telah muncul berkali-kali menghiasi layar kaca kita. Ironisnya, dalam salah satu penghargaan , artis yang mengandalkan tangisan bayi ini, justru menjadi artis terbaik. Entah apa pertimbangan yang digunakan, yang pasti hal ini sangat menyedihkan. Ini bukti betapa lemahnya kita, dan perjuangan kita hanya sampai pada tahap tangis-menangis.
- Musik
Musik adalah sebuah keindahan. Sebuah simfoni merdu yang dikombinasi sedemikian rupa hingga menjadi sangat fundamental bagi penikmatnya. Tapi ditangan kapitalis, musik menjadi senjata ampuh penindasan. Sebuah mesin penghasil uang yang bekerja luar biasa hebatnya.
Kemonotonan dunia musik kita sebenarnya sangat parah. Bahkan beberapa pihak sudah mulai curiga hingga ada yang melakukan perlawanan. Tema-tema elegi patah hati, skandal perselingkuhan hingga kepicikan pikiran telah menjangkiti masyarakat kita. Lagu-lagu itupun laris bak kacang goreng. Memang selera tak bisa disalahkan, tapi apakah selera kita sudah sedemikian murahannya hingga bisa menjadikan artis-artis pemusik yang sebenarnya rendah musikalitasnya itu sebagai mega bintang.
Kita telah dicekoki secara paksa oleh musik-musik yang melemahkan seperti itu. Apa kita tak curiga, mengapa para industrialis musik kita hanya menampilkan sosok yang itu-itu juga dengan tema-tema yang lagi-lagi itu juga ditelinga kita. Padahal diluar
Hal yang patut menarik perhatian kita adalah perkembangan aliran-aliran musik perlawanan kita. Jika mereka sebelumnya menjadi sosok oposisi yang gagah lagi garang, kini mereka tak lebih dari sekedar plagiat yang haus populeritas dan gila ketenaran. Musik mereka telah dimanipulasi, sehingga semangat perlawanannya justru menjadi propoganda dan lahan duit bagi kaum kapitalis.
- Shopping
Ditangan kaum kapitalis, hal-hal yang rendah mutu dan guna manjadi sangat marketable. Dengan hanya bermodal merk tertentu, sebuah sepatu dapat bernilai puluhan juta rupiah, walau gabungan dari biaya produksi serta iklan dan pajaknya tak sampai sepersepuluhnya. Sebuah tas dengan merk tertentu dan bertuliskan nama negara tertentu sebagai produsennya, menjadi sangat diminati walau mahal harganya serta standat bahannya.
Kegilaan kaum hedonis pada merk adalah sebuah makanan empuk bagi kapitalis. Bermodalkan sedikit kreatifitas, dan mutu yang ala kadarnya, tapi iklan yang gencar dan dasyat, membuat barang itu laris dipasaran. Trend setter dan gaul, menjadi kata-kata andalannya, seakan-akan dunia akan kiamat jika tak memiliki barang tertentu. Menyedihkan sekaligus membingungkan karena banyak kaum menengah kebawah yang terjangkiti penyakit seperti ini. Gejalanya adalah mereka tak akan diam membelanjakan uangnya jika majalah-majalah, televisi dan radio-radio kapitalis mengatakan kalau barang itu adalah suatu mode terkini. Kaum menengah kebawah ini, yang telah tereduksi dengan pemikiran yang mubazir ini tak jarang menggadaikan hidupnya untuk ikut kompetisi kaum hedonis dalam mencari kebahagiaan yang tak lebih dari fatamorgana ini.
Kaum muda yang harusnya penuh militansi dan berjiwa kritis, banyak juga yang terjangkiti wabah laknat ini. Bahkan beberapa justru menjadi agen kampanye tidak berguna ini.
Pengepungan yang dilakukan oleh kaum industrialis kapitalis ini bagai penyakit menular, yang sangat sulit disembuhkan. Bukan karena tidak ada obatnya, tetapi karena si pasien telah telelap dengan penyakitnya.
Barang-barang impor yang membajiri negara kita inipun sebenarnya juga banyak yang tak layak pakai. Berapa kali kita dengar jika barang-barang ini berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Sebenarnya selain menyerang sudut ekonomi, para penindas itu juga mengincar kesehatan kita , terlebih mental kita. Kita harus insaf, jika memang kita telah ada dijalan konsumerisme ini. Pertama tanggalkan, lalu tinggalkan. Tumbuhkan jiwa mandiri. Keraskan etos kerja kita. Kembangkan kepercayaan diri kita.
Konsumerisme bukan merupakan kebutuhan hidup tapi adalah sebuah pilihan hidup yang pasti membawa konsekuensi yang kita semua sudah tahu apa itu. Belilah sesuatu secara selektif dan bijaksana.
Memelihara konsumerisme berarti pula memelihara jamur yang akan menggerogoti kebahagiaan kita cepat atau lambat.
Diatas adalah sekelumit contoh yang bisa menggambarkan penjajahan dalam bentuk baru. Suatu konspirasi tingkat tinggi mungkin perlu dijadikan tersangka. Tapi yang lebih penting dari itu adalah usaha kita untuk merebut kemerdekaan kita. Suatu kemerdekaan yang penuh kedaulatan tanpa penindasan dan penekanan. Ini butuh sebuah perjuangan ekstra keras yang memeras keringat, tapi sangat mengasyikkan bila dilakukan.
Pembebas sejati adalah diri kita sendiri. Baik bila kita ingin menjadi el libertadore bagi masyrakat kita, tapi alangkah lebih baik lagi jika kita mencoba terlebih dahulu membebaskan diri kita sendiri. Mulai dari kecil,mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.
Api perlawanan terhadap kaum kapitalis kita akan berusaha dipadamkan baik oleh kaum kapitalis maupun oleh diri kita sendiri. Spirit untuk terus berjuang dan berusaha harus terus dipelihara. Jangan kita menyerah ditengah jalan.
Perubahan harus menuju kearah yang lebih baik. Dan kita harus berusaha mati-matian untuk mengembalikan arah perjalanan bangsa kita. Jangan sampai kita berubah menjadi bangsa pengemis sepenuhnya yang berarti kita kembali pada kubangan penjajahan.
Perubahan dan pembaharuan harus dilakukan sedini mungkin sebelum rantai baja dari penjajahan para nekolim dan neimprel itu merantai setiap bagian dari bangsa ini sepenuhnya. Rantai ini harus dipatahkan dan dihancurkan. Tanggalkan dan tinggalkan.
Untuk melakukan perubahan dan pembaharuan itu ada baiknya jika kita telah dipersenjatai oleh konsep-konsep dan idealisme yang baik pula. Tapi jangan sampai kita berhenti pada tataran ideologi lalu melakukan perdebatan melelahkan dan tiada faedahnya. Konsep apapun jika tidak ada usaha untuk mempraksiskannya, adalah tak lebih dari sebuah sampah yang lebih baik dibakar saja.
Akhirnya kita akan sampai pada tahap akhir dari sebuah perjuangan. Sebuah perjuangan sehebat apapun itu, tak akan pernah jadi kenyaataan jika tak seizin Sang Pengusa Jagat. Adalah sesuatu hal yang baik jika kita meminta restuNya untuk melaksanakan pembebasan ini. Tapi jangan kita hanya diam berharap. Karena Sang Penguasa Jagat tak akan pernah merubah nasib seseorang tanpa orang itu berusaha mengubah nasibnya sendiri. Ora et Labora. Perjuangan pembebasan harus melingkupi praktek dan pengharapan kuasaNya.
Igne Natura Renovatour Integra.
Magelang, 9 September 2008
Guritno Adi Siswoko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar